Senin, 27 Agustus 2012

Psikologi Perempuan

     Perempuan? Apa yang Anda bayangkan ketika Anda mendengar kata tersebut? Mungkin saja pendapat Anda bermacam-macam. Makhluk lemah yang tidak berdaya? Atau makhluk kuat yang menghadirkan kehidupan baru di dunia? Jika Anda tetap berpendapat bahwa perempuan adalah makhluk lemah yang tidak berdaya, sepertinya Anda harus lebih banyak membaca atau mendengarkan jeritan-jeritan dari para pejuang emansipasi wanita. Para pejuang ini secara terus menerus menyuarakan tentang feminism. Feminism adalah aliran atau pergerakan yang memperjuangkan wanita untuk mendapatkan hak sosial, politik, dan ekonomi.
     Saya terinspirasi oleh ceramah dosen Psikologi Perempuan yang mengatakan bukti nyata bahwa dulu di Amerika ada pelajar yang menyelesaikan pendidikan tingginya di salah satu universitas terkemuka, tetapi tidak mendapatkan ijasahnya semata-mata karena dirinya perempuan. Ijasahnya baru diberikan ketika Beliau memperjuangkannya berpuluh-puluh tahun kemudian, namun sayangnya ijasahnya baru diberikan ketika Beliau sudah meninggal. Tidak hanya di luar negeri saja, seperti kita ketahui, di Indonesia terdapat gap yang cukup jauh antara hak perempuan dan pria. Pada zaman penjajahan, wanita dilarang keras untuk belajar di sekolah. Perempuan ditentang begitu keras untuk belajar membaca dan menulis. Perempuan dijadikan budak pekerja rumah tangga, buruh kerja sawah, dan bahkan banyak perempuan yang direngut kesuciannya. Begitu mengerikan diskriminasi antara perempuan dan pria. Untungnya, ada pahlawan Ibu Kartini yang memperjuangkan emansipasi wanita, sehingga kaum perempuan di Indonesia setidaknya dapat menikmati bangku sekolah.
     Secara fisik, perempuan memang berbeda dengan pria. Memang harus diakui bahwa pria memiliki tenaga yang lebih kuat dibandingkan perempuan, pria memiliki otot yang lebih besar daripada perempuan. Tetapi, secara sosial dan pengakuan tidak adil rasanya jika pria dan perempuan dibeda-bedakan. Perempuan sekarang banyak juga yang sukses dalam dunia kerja dan pendidikannya. Banyak perempuan yang berhasil menduduki jabatan tertentu yang di atas pria. Bahkan, ada perempuan yang berhasil menjadi presiden Indonesia. Wanita hendaknya mendampingi pria, bukan menjadi kaum yang diinjak-injak ataupun yang menginjak-injak. Betapa indahnya bukan jika perempuan dan pria tidak terus menerus membedakan gender?
     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar